Kado Lebaran; Sebuah Reflesi Kerinduan Buat Semua Kawan Arthur-ku

Ni ada sebuah cerpen karangan hamdani purba untuk kawan2 arthur ku di mana aja dirimu berada..
Meracit Baja di Dusun Kecil

(Kado Lebaran; Sebuah Reflesi Kerinduan Buat Semua Kawan Arthur-ku)

Sekitar 500 meter dari simpang desa kwala madu terdapat sebuah pesantren yang cukup sederhana. Pagar besi yang hanya mengelilingi beberapa gedung sekolah, asrama dan lapangan olah raga itu berdiri tegar seolah siap melatih para muridnya untuk menjadi pribadi-pribadi muslim baja. Terlihat para santri dan santriah begitu gembira menikmati dinamika kehidupan mereka dalam ‘dusun kecil’ itu.

Sebuah masjid serba guna adalah tempat paling representatif dalam mengumpulkan seluruh santri dan santriah. Di masjid ini aktivitas lebih banyak digelar seperti informasi, mengaji al-Quran, diskusi mudzakarah bahkan tidak jarang untuk rapat IRM, sebuah organisasi untuk mengasah emosional dan sosial santri.

Zahra adalah salah satu dari deratan tujuh ratus orang santri/santriah yang menimba ilmu di sini. Ratusan kilometer dari desa tempat tinggalnya rela ia tempuh demi mendapatkan label seorang santriah.

Tubuhnya yang tidak begitu pendek dibalut dengan gaun dan kerudung panjang, wajah putih dan polosnya selalu terlihat anggun. Wanita muda belia ini terkenal dengan kecerdasan dan prilakunya yang mulia, ia juga orang yang bersahabat. Siapa yang tidak kenal Zahra, ia tidak hanya pintar tapi juga salehah. Kepribadiannya penuh bersahabat, rasanya ingin semua orang menjadi teman dekatnya.

“Assalamu’alaikum”, suara zahra mengampiri asramaku. “Wa’alikum salam”, jawabku dengan keras. “Iffah kemarin ada rapat di IRM ya, kenapa aku tidak diberitahu”, tanya Zahra dengan wajah kerut. “Lho, bukannya, Hisyam sudah mengumumkan di Pos setelah sholat ashar, kalau kita akan rapat,” jawabku langsung, menyangkal prasangkanya. “Ohh, pengumuman itu, afwan fah, aku sangka itu pengumuman buat latihan drum band, maklum aku mendengarnya setelah bangun tidur”, zahra kembali mejaskan kondisinya. “Huuuuuh, makanya putri cantik, kalau tidur siang lihat-lihat jam ya, jangan kebanyakan mimpi!,” kucandain ia dengan wajah tertawa.

Tiba-tiba di benakku terbesit ingin curhat dengan Zahra, kebetulan tadi malam, di tengah kesunyian aku membayangkan tidak terasa sudah enam tahun kugoreskan perjalanan hidupku di dusun kecil ini, hanya tinggal empat bulan lagi aku akan meninggalkan pondok bersejarah dalam hidupku ini. Seribu pertanyaan menyelimuti pikiranku. Akankah aku bisa kembali ke dusun suci ini. Kemana lagi kakiku akan melangkah melanjutkan studi. Kapan lagi aku bisa menikmati kehidupan bersama mereka. Apakah aku akan tetap menjadi seorang santriah.

Ya santriah, bagiku menyandang gelar santriah adalah beban moral yang harus dipertahankan dan diperjuangkan, tidak semua orang sanggup mendapatkannya. Gelar itu amat ’suci’. Seorang santriah pesantren tentu berbeda dengan wanita lainnya, bukan hanya dari cara berpakaian yang harus menutup aurat, tapi juga dari pergaulan yang harus selalu terjaga, ibadah yang tidak boleh tertinggal, sebab itu adalah kehidupanku. Ya, allah berikan aku kekuatan untuk selalu mempertahan identitasku.

“Hei, iffah, kok termenung!…lagi kangen ya, sama bunda”! suara zahra menyentak lamunanku.

“Zahra, bagaimana perasaanmu setelah kelas enam ini”!, tanyaku ingin tahu apa ia juga berpikiran seperti aku. “Wah, perasaan sih banyak, adakalanya sedih tapi juga senang, jawabnya dengan santai”. Zahra memang begitu, ia selalu menyikapi sesuatu dengan bijaksana, itulah yang membuat aku terkesan dengan sahabatku ini. Meski terkadang teman-teman sekelas sering tidak percaya dengan idenya, karena ia memang tidak senang dengan keseriusan, semua dihadapi dengan santai, tapi pasti.

Toh, terbukti, banyak ide-iden zahra yang dipakai dalam setiap kegiatan kelas enam. Waktu panggung gembira misalnya, Zahra mengusulkan agar acara panggung gembira kali ini jangan hanya dipenuhi oleh drama, adik-adik sudah bosan. cobalah kita buat terobosan baru, kita bentuk satu team nasyid dengan paduan suara dan musik modern tapi tetap islami kemudian ia juga mengusulkan agar drama kelas enam memberikan goresan mendidik di hati para santri bukan sekedar drama komedi yang mencerminkan hidup santri yang malas dan hanya bermain.

Zahra, dengan ide-ide cemerlang dan idealisme positif selalu memberikan warna dalam angkatan kami, kepekaannya akan tanggung jawab seorang santri atau santriah selalu ia refleksikan dalam ucapan dan tindakannya dengan teman-teman lain.

Dengan penuh tanda tanya, kuberanikan diriku melihat papan pengumuman hasil ujian akhir, kugeser jari telunjukku ke atas dan ke bawah, berharap akan menemukan namaku. Alhamdulillah, namaku keluar, aku lulus.

“Zahra aku lulus, gimana denganmu”.! Tanyaku kepadanya dengan suara penuh keriangan.

“Alhamdulillah, aku juga lulus”, jawabnya dengan suara pelan diiringi raut wajah berseri.

“Tau enggak, angkatan kita tahun ini semuanya lulus, enggak ada satupun yang mengulang”, ucap thamrin dengan suara tergopoh-gopoh kepada kawan-kawan yang sedang asyik mencari namanya masing-masing.

Kulihat satu persatu wajah teman-temanku semuanya riang, gembira, bahkan ada yang mau nraktir makan ke kantin sepuasnya, bayangkan. Tapi tidak begitu denganku, tiba-tiba keriangankanku kembali diganggu dengan tanda tanya, seolah suasana kegembiraan ini tidak begitu kurasakan semuanya.

Hari ahad 9, juni 2002 di keheningan pagi cerah, hembusan angin pagi perlahan menusuk tubuhku, aku duduk di pondok kecil di depan asrama, kulepaskan pandanganku setiap pojok-pojok pesantrenku, barangkali inilah hari terakhir perjuanganku menempa diri. Pikiranku melayang menatap masa depan, saatnya aku memasuki dunia mahasiswa, dunia luar yang penuh warna-warni, akankah wawasan agama yang telah kumiliki di pesantren ini selalu bisa kepertahankan…akankah gelar santriah ini kuabaikan, bagaimana aka berinteraksi dengan dunia luar, bagaimana aku mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah. Ahhh… kucoba singkirkan jutaan pertanyaan itu, tekadku sudah bulat bahwa aku harus mempertahankan kepribadian seorang santriah. Bagiku, santriah bukan hanya di pesantren, aku harus buktikan bahwa keberhasilanku akan ditentukan oleh sikap dan prilaku untuk selalu berada pada agama ini.

“Iffah..ayo cepetan..acara perpisahan udah dimulai”, teriak teman sekamarku dari jendela, tidak terasa sudah dua jam kuhabiskan waktu untuk melamun.

Hari perpisahan itupun tiba. Enam tahun kami bersama menempa diri, merajut persahabatan, pahit dan manis dunia pondok sudah kami rasakan bersama, waktu yang cukup lama, dan tidak mungkin bisa hilang begitu saja. Berat rasanya melangkahkan kaki ini dari dusun kecil, berat rasanya merelakan lambaian tangan-tangan kawan-kawan.

Satu demi satu sahabat kami memohon izin karena telah dijemput orang tuanya, aku berusaha menaham air mata, tapi tak sanggup, sesekali kulihat wajah kawanku bersedih, tak sanggup pelupuk mataku menahan, akhirnya tanpa sadar tetesan air mata pun mengalir, seolah ia tidak rela melepaskan lambaian-lambain tangan mereka.

Terima kasih kawan atas semuanya, persahabatanmu, kebersamaanmu, perhatianmu, dan nasehatmu. Semoga kita sukses bersama-sama, gumamku dalam hati, seraya memohon kepada Allah semoga mereka mendapatkan kemudahan dalam menggapai cita-cita.

Hari ini adalah hari pertama aku memasuki universitas, alhamdulillah allah kembali memberiku anugerah aku lulus di SPMB, sesuai keinginanku aku diterima pada fakultas kodekteran USU. Sementara teman-teman lainnya masih belum diberi kesempatan untuk diterima di USU, namun mereka tetap semangat dan melanjutkan di perguruan tinggi lainnya.

Meski beckround-ku adalah pesantren, tapi kecondonganku tetap pada bidang sains khususnya biologi, kebetulan di pesantren dulu juga aku ambil jurusan IPA.

Gaun lebar dan jilbab panjang tetap melekat di tubuhku, kupandangi kehidupan mahasiswa ternyata memang beda dengan kehidupanku dulu di pesantren, di sini semuanya bebas, tidak ada peraturan yang mengekang, Mahasiswa bebas melakukan apa saja. Pola hidup plural sangat tercium di universitas ini.

“Sebelum kita memasuki materi anatomi manusia, saya ingin berkenalan dengan kalian semua”, ungkap seorang dosen setengah baya yang berkacamata dengan wajah penuh senyum.

Satu persatu kuperhatikan setiap mahasiswa yang memperkenalkan dirinya, mulai dari ujung kaki sampai kepala, bahkan caranya berbicara. Tak satupun di antara mereka yang berudung sepertiku, namu aku bukan tipe orang yang mudah menilai, aku selalu berusaha husnudzzan dengan orang lain.

Memang harus kuakui berat rasanya menampilakan sosok seorang santriah.

Dengan nada pelan dan berhati-hati kuperkenalkan diriku,

“nama saya, iffah munawwarah”, ucapku, saya berasal dari desa siantar, sekitar enam jam jarak rumah saya dengan kampus ini”, lanjutku…

“Almamaternya dari mana mbak”, tanya seorang mahasiswa yang dudud paling pojok, Pondok Pesantren Kwala Madu, “Ohhhhhhhhhhh, dari pesanteren tho”, serempak suara satu ruangan menyertai jawabanku.

Hari demi hari kulalui perjalanan studiku di kampus ini, sesekali sering kujumpai sindiran bahkan sentilan dari beberapa rekan tentang ketidakterbukaanku dalam berteman. Namun kuanggap itu sebagai kerikil jalanan yang berusaha menghalangi kesuksesanku. Bagiku bergaul punya batas, karena Islam mengajariku seperti ini, apalagi bergaul dengan lawan jenis, tentu sangat sensitif jika tidak diposisikan secara baik dan benar.

Setiap minggu aku tetap menemui Zahra yang kampusnya berdekatan dengan kampusku, ia kuliah di fakultas Bahasa Arab. Dialah tempatku membagi rasa, bahkan ia kuangggap sebagai seorang guru sekaligus penasehat. Keberadaannya sangat memberi arti bagiku, semoga Allah memberikan persahabatan ini keberkahan bagi kami.

Seusai sholat suhuh, kurasakan betapa nikmatnya menjadi pribadi muslim, aku jadi mengerti bagaimana harus menghadapi dunia ini, aku jadi paham siapa dan apa tugasku di muka bumi ini, dan akupun selalu diberi kemudahan memecahkan problem diriku, bahkan keluarga dan juga teman hanya dengan tetap mempertahankan PRINSIP HIDUP. Ya prinsip hidup. Aku tidak boleh seperti kapas yang tidak punya kepribadian, yang rela di bawa angin ke mana saja, namun aku harus seperti baja, yang kuat menahankan badai cobaan, tegar melawan deras kehidupan serta konsisten berada dalam lubang kesyukuran.

Keheningan Malam Kota Seribu Menara,

Malam Lebaran, 03 November 2005

Teruntuk Sahabat-Sahabatku di ARTHUR, terima kasih atas persahabatan kalian, semoga kita menjadi generasi-generasi sukses dunia dan akhirat.

Mohon Maaf Lahir Batin………….. Maaf ya, kalau cerpennya jelek, dan ngawur, ini cuma berbagi rasa, aku juga enggak tau kenapa jadinya kayak gini, soalnya ketika menulis yang kubayangkan adalah wajah kalian satu persatu. He..he..he…he…

Nanti akan kusambung lagi. OK

Hamdani Purba (Aam)

3 Responses to “Kado Lebaran; Sebuah Reflesi Kerinduan Buat Semua Kawan Arthur-ku”


  1. 1 kholifah apriliana October 31, 2008 at 12:53 pm

    assalaamu’alaikum,subhanallah..crpen’y ckup mnarik(ups afwan klu di bilng ckup heheh)^_^, bnar2 mncritkan tntg akhwat dn prshbtn y?tpi…knp gk ad ikhwan’y? insyaallah klucrpen2 yg ad di web ma’had ni..brnuansa islmi mka..pola pkir kita juga akn brubah..ttp smngt y tmn2 fillah dlm mngmbangkan karya2 trbaik.. ^_^
    oh iya..nma’y iffah msuk di crpen..hehehe tpi beda.

    y dh deh..komntr’y cuma tiu aj..crpen’y subhanallah..^_^
    buat shbt smua, ttp smngt, istiqomah, truslah brdkhwah dn snyum..

    wassalam^_^

  2. 2 syuhada'03 November 5, 2008 at 11:42 pm

    wah jadi rindu pondok nih..!
    Lama aku tak besua denganmu
    Walau Kau jauh dimata, pondokku dekat dihatiku
    Ceritanya bagus bang.., kaifa haluk ya Syekh Aam..?
    ak masukin ke site ya..!
    http://www.syuhada09.multiply.com

  3. 3 sunario November 15, 2008 at 5:22 pm

    bang aam kok diam2 nulis cerpen kagak kasih tahu. soalnya antum kan gak pernah nulis cerpen. kl diminta nulis cerpen sll aja nolak. heheh maklum ana menilainya karena antum sering nulis yang ilmiah gitu. tapi ana acungkan jempol bang. cerpennya bagus banget. mudah2an dikembangkan sll agar masuk dalam deretan cepenis muda masisir seperti habiburrahman syirozi. hehehh. aplouse sebesar-besarnya. akhukum fillah adik kelas yang bandel gak pernah ikuti saran seniornya….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




FOLLOW @kualamadu

Brighter Planet's 350 Challenge

Statistik Blog

  • 54,826 hits
Add to Technorati Favorites

%d bloggers like this: