Merajut Mimpi Bernilai Mumtaz

Seandainya aku dapat memahamimu apa adanya, tentu aku akan merasakan sebuah kebahagiaan tak terlupakan bersamamu. Belum lama ini, aku selalu merasakan kegelisahan dan kegalaun di dalam hatiku. Ntah apa itu namanya, tapi aku sungguh tak mengerti mengapa hal ini akan terjadi pada diriku. Padahal sebelum aku berkenalan denganmu banyak berita baik yang aku terima tentangmu. Mereka selalu bercerita baik tentang keadaanmu. Tak ada satu kata pun yang mereka ungkapkan kecuali kebaikan. Aku sungguh terpesona dan rasanya aku ingin sekali berjumpa denganmu dan berkenalan secara langsung. Seperti pepatah Shakespear dalam syairnya apalah arti sebuah nama. Senada dengan keadaan kita, apalah arti sebuah cerita jika toh akhirnya berbeda dengan realita.

Dengan segala kekuatan yang ada, aku berusaha mengumpulkannya menjadi satu. Yah, dengan satu keyakinan dan tekad, aku akan mencari jalan bagaimana kita dapat bertemu. Segala keperluan jumpa pertama haruslah meyakinkan, selanjutnya terserah anda. Mulai dari doku, pakain necis, kendaraan, wah pokoknya segala yang aku miliki walau ku dapat dari lubang tutup lubang yang penting bertemu sama kamu. Apalah arti sebuah kekayaan jika tak memiliki kebahagiaan, dan apalah arti cinta jika tak memiliki. Walau ada syair kosong mengatakan cinta tak selamanya harus memiliki. Akhirnya aku kuatkan azam dalam hati bertekad bahwa cinta akan tumbuh tatkala kita bertemu dan saling memiliki. Bismillah.

Ku langkahkan kaki bersama iringan gema takbir dan doa sekeluarga mengawali perjalanan pertamaku pergi jauh menuntut ilmu di negeri para Nabi. Berazam mengikuti perintah Maha Kuasa yang termaktub dalam surat at-Taubah ayat: 122, “tidaklah orang-orang mukmin itu pergi perang semuanya maka kalau seandainya ada beberapa orang dari setiap kelompok di antara mereka ada sekelompok yang belajar ilmu agama dan memberi peringatan kepada kaumnya jika kembali kepada mereka setelah menuntut ilmu agar mereka menjadi bagian orang-orang yang memberi peringatan.” Ayat ini seakan memberi kekuatan cinta yang dahsyat pada diri untuk selalu memperbaiki niat pada setiap derap langkahnya. Niatku semakin mantap dengan segala kabar yang sudah ku dengar dari setiap orang, baik itu dari senioran, guru-guru, maupun orang yang akan membawaku ke sana. Oh, kekasihku, tunggulah kedatanganku. Dengan segala perbekalan yang aku bawa dengan perkiraan cukup untuk biaya hidup kita selama 4 tahun nantinya.

Oh, kekasihku al-Azhar, aku telah tiba bertemu denganmu. Aku telah melihatmu dengan jelas. Wajahmu yang cantik menurut cerita tak seindah realita. Keadaanmu yang bersih menawan sungguh menyayat hatiku dengan apa yang aku lihat. Hari-hari pertamaku berjumpa denganmu selalu menyisahkan kepedihan yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Cintaku perlahan luntur. Niat menuntut ilmu dan bercita-cita ingin menjadi sang juru ceramah di kampung perlahan pudar, meskipun tak sepudar pesona cleopatra. Tapi itulah sebagian kekecewaanku di pertemuan pertamaku denganmu. Tapi aku tetap berharap, cinta itu pasti akan tumbuh sambil berjalan. Seperti ungkapan para syabab yang menikah tanpa pacaran bahwa cinta itu akan tumbuh sambil berjalan. Wajah bukanlah ukuran hidup bahagia itu hanya pesona luar dan pemanis bibir saja suatu saat nanti pasti mengalami kekisutan. Begitulah pesona warna-warni kehidupan al-Azhar yang telah dipenuhi bunga-bunga mawar nan indah dan penebar wewangian bagi alam sekitarnya.
Lingkungan menentukan bibit. Tak selamanya bibit unggul akan menghasilkan buah yang terbaik jika ditanam di ladang yang gersang. Pilihlah lingkungan dengan komposisi tanah yang subur dan mengandung banyak mineral. Dengan demikian, harapan akan tumbuhnya pohon yang kuat akarnya dengan tegaknya batang menjulang ke atas dan ranting-ranting yang menggantung buah-buah yang manis sebagai daya tarik para pengunjung. Mungkinkah aku termasuk salah satu bibit unggul yang tumbuh di tanah yang subur?
Kehidupan itu selalu berdinamika bukan statis. Cepat laju perputaran bumi begitu sangat cepat. Perubahan siang dan malam yang telah memakan sisa umur kita semakin tak terasa. Setahun, dua tahun, tiga tahun, bukanlah waktu yang lama. Tapi waktu itu akan terasa semakin lama jika kita hanya berdiam diri tak berdinamika. Jika kita terus menyesali pertemuan dan bukannya perpisahan berarti kita hidup diantara cinta dan benci. Bukan perpisahan yang aku ratapi tapi pertemuan yang ku sesali. Tak selamanya ini benar tapi itulah kebenaran.

Dulu keadaam mesir sangat kondusif untuk belajar. Di mana-mana orang sangat menghargai waktu. Di halte, di mesjid, di bus, dan di manapun, namanya masisir (mahasiswa mesir, red) tak pernah lepas membaca buku dan Alqur’an. Tidak hanya terbatas pada masa imtihan saja tapi setiap waktu. Keadaan itu sungguh membuatku cemburu dan ingin sekali lagi kembali ke masa nostalgia itu bersamamu, oh, bukuku!
Sekarang aku selalu disibukkan dengan kondisi mesir yang mulai tak bersahabat. Pencurian, penodongan, pemukulan, pencopetan, dan tindakan kriminal lainnya membuat mahasiswa semakin merasa resah dengan keamanan. Bagaimana bibit cabe akan tumbuh kalau toh ditanam di tanah yang subur dan pupuk yang unggul tapi para hama tak diberantas. Manalah mungkin cabe itu akan tumbuh baik dan menghasilkan buah. Mimpi kali yeh. Belum lagi, ditambah keadaan ekonomi mesir yang semakin semrawut. Harga-harga pokok semakin melambung. Mulai dari beras, minyak goreng, dan makanan ringan semua pada naik. Ditambah lagi uang sewa syaqqah yang tak pandang bulu lagi, yang tiap tahunnya terus naik dan naik lagi. Padahal aku hidup di sini mengandalkan minhah al-Azhar yang tak pernah naik-naik. Ternyata bibit unggul butuh juga pupuk sebagai tambahan gizi pertumbuhan selain tanah yang subur. Bagaimana aku bisa belajar dengan tenang kalau toh kekasihku selalu menagih uang sewa setiap bulannya dengan harga tinggi. Telah aku jual semua segala perbekalanku hidup selama 4 tahun, padahal aku baru hidup bersamamu 6 bulan saja. Aku malu dan tak mungkin meminta uang kepada ortu hanya untuk alasan membahagiakanmu, padahal aku tahu ortu di sana sudah tidak memiliki apa-apa lagi buat biaya ngedateku bersamamu selama 4 tahun ke depan.
Aku stress, aku berputus asa. Aku tak tahu apa yang seharusnya aku lakukan. Akhirnya aku lari dari niat awal, yaitu ingin selalu bersamamu dan tidak akan meninggalkanmu apapun kondisinya. Belajar aku semakin menurun karena harus memikirkan biaya ngedate bersamamu setiap harinya. Aku mulai mengurangi jadwal muhadharah karena lantaran biaya transportasi yang sudah menipis dan hanya cukup untuk sewa rumah dan makan. Kemudian aku putuskan untuk mencari kerja sebagai tambahan biaya ngedate bersamamu lagi. Meskipun niat awalnya bekerja sambil belajar tapi itu hanya sekedar niat. Aku semakin tak bisa membagi waktuku antara belajar dan berdinamika lantaran jam kerjaku yang begitu padat. Semua aku lakukan, karena terpaksa sebagai tuntutan hidup. Minhahku sudah nggak mencukupi lagi ditambah aku tak pernah dikirimi uang dari kampung. Maafkan aku wahai kekasihku, aku telah mengecewakanmu. Apakah masih ada waktu bagiku kembali lagi kepadamu?

Pada tahun ini, ada kabar gembira dari keluarga kekasihku. Kata bapak mertua, dia akan mensupport dan memberi kesempatan pada semua syabab yang akan meminang anaknya dengan syarat mendapatkan nilai mumtaz dari al-Azhar. Pengumuman ini sangat menggiurkan, mengapa tidak? Anaknya yang cantik nan jelita dengan perawakan menawan dan disiplin waktu orangnya, menambah kedewasaan dalam mengambil keputusan. Tapi anehnya pengumuman itu tak menarik buatku. Aku bukanlah orang pintar ditambah lagi sistem ujian al-Azhar yang sangat berbeda di negeriku dan sistem penilain yang semrawut. Manalah mungkin orang seperti aku akan mendapatkan nilai mumtaz. Mimpi kali yeh!
Pengumuman nilai mumtaz dan peningkatan jumlah ke-najah-an sampai 99% menjadi isu hangat. Program yang diusung Bapak Mertua di negeri kekasihku bukan main-main. Semua kegiatan yang tidak berbau pendidikan tidak akan mendapat izin ngedate sama anaknya. Kalau Bapak Mertua mau jujur curhat sama anaknya, pasti anaknya akan menolak keputusan ini. Apakah kebahagiaan hidup hanya diukur dengan nilai pendidikan seseorang baru bisa menikahinya. Padahal kehidupan ini penuh dengan warna-warni yang harus diwarnakan bukan satu warna. Seperti kegiatan bela diri yang bertujuan menjaga diri dari musuh, kegiatan sepak bola yang bertujuan tidak hanya sekedar karir tapi juga buat kesehatan, atau kegiatan kaderisasi sebagai pos awal mengkader para syabab dengan bimbingan trik-trik menggapai kesuksesan hidup. Apakah sang Babak tetap pada pendiriannya dan tidak sama sekali memperhatikan masa depan anaknya nanti. Inilah harapan kami dari para syabab yang akan meminang anak Bapak, semoga Bapak memaklumi kami.
Suatu hari aku mulai berfikir, memang benar cinta tak selamanya harus memiliki suatu saat ia akan meninggalkan kita. Kita bercita-cita ingin menjadi yang terbaik dan mendapat nilai ke-najah-an yang terbaik, tapi itu hanya sekedar mimpiku saja ingin mendapat sang kekasih yang cantik nan jelita. Sekarang aku mengerti bahwa aku tak bisa mengikuti perlombaan itu tapi aku tetap mendaftar sebagai salah satu calonnya. Lebih baik mencoba dari pada mengaku kalah sebelum pertandingan. Dan diakhir tulisan ini, aku hanya bisa merajut mimpi bernilai mumtaz, berharap bisa menjadi anak menantu harapan Bapak Bangsa di kemudian hari kelak. Bermimpilah, karena itu cerminan harapan kita. Orang sukses mengatakan, awali semua kehidupanmu dengan mimpi bukan khayalan karena mimpi muqaddimah dari sebuah realita. Selamat bermimpi!

 

configure by Sunario

2 Responses to “Merajut Mimpi Bernilai Mumtaz”


  1. 1 arya yoyo December 3, 2008 at 6:04 pm

    aduh judulnya terlalu melangit, ntar kalau jatuh pasti sakit dan susah bangunnya? yang biasa aja dan sederhana yang penting berbobot. tapi aku acungkan jempol lo buat penulisnya, ttp semangat dan met berkarya selalu semoga karyang bermanfaat. eiitzz ape lupa emang siapa tu penulisnya, le tahu gak pak moderator????

  2. 2 Udo Yamin Majdi December 5, 2008 at 5:10 am

    salam
    membaca tulisan ini, udo seakan-akan kembali muda
    hanyut dalam lautan kata romantis

    tak ada kata yang patut udo sampaikan
    selain rasa salut dan terus semangat menulis
    terlebih lagi istiqomah

    sekali lagi semangat dan istiqomahlah!

    udo yakin, suatu saat nanti
    antum akan menjadi mujahid pena

    “tinta mujahid pena sebanding dgn tetesan darah syuhada”

    Wassalamu’alaikum Wr Wb

    Direktur WORD SMART CENTER
    (founder milis wordsmartcenter@yahoogroups.com)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




FOLLOW @kualamadu

Brighter Planet's 350 Challenge

Statistik Blog

  • 54,826 hits
Add to Technorati Favorites

%d bloggers like this: