Di saat Kau mendoakanku di shalat malammu

“Assalamualaikum”. Anto menyapa.
“Wa’alaikum salam”. Jawabku.
“Yo’, kamu serius mau ngelanjut kuliah ke Mesir? Apa tidak terlalu jauh itu?”
Aku kebingungan. Di dalam diriku, sebenarnya aku masih ragu dengan kemapuanku. Tapi teman-teman selalu mensupportku bahwa aku bisa.
“Mungkin.” Itulah jawaban singkatku.

Di shubuh hari yang cerah di bawah cahaya lampu, aku bersandar di samping mesjid. Sambil membaca Al-qur’an dan memuraja’ah, aku kembali berfikir berulang-ulang akan niatku.
“Ah, apa aku bisa seperti bang Aam, yang memiliki kemampuan bahasa arab di atas ku?” kata-kata ini terus mengusik kalbuku. Setiap harinya, aku seperti tidak memiliki keyakinan akan kemampuanku. Tapi…bagroundku sebagai ketua bahasa dulunya dan sebagai santri yang baik dan berkapabel…”Aduh, kepalaku pusing”.

Tepat tanggal satu bulan April, aku pergi mendaftar bersama ust Amin ke IAIN. Dengan rasa percaya diri yang kurang, aku ingat wajah orang tuaku. Keinginan keluargaku agar aku menjadi yang terbaik, keinginan keluargaku agar aku menjadi orang sukses nantinya…ya seribu dorongan yang akan terus mensupportku untuk selalu maju.
“Yo, kamu kok kelihatan murung?” Ust. Amin membuyarkan lamunanku.
“Iya, Ustadz. Aku seperti tidak memiliki keyakinan untuk berangkat ke Mesir?”
“Yang penting kamu berusaha dulu seperti akh Aam.”
“Ya, Ustadz!”

Dalam hatiku masih berkecamuk, antara keraguan dan keyakinan. Hanya dengan bermodalkan lima puluh ribu uang pendaftaran yang diberikan mamaku menambah keyakinanku sedikit. Uang sebanyak itu telah ada di tanganku dengan keringat bercucuran untuk mendapatkannya. Aku tidak boleh menyia-nyiakan usaha mereka semuanya…
“Bismillah…”, aku ucapkan dalam hati.

Semenjak aku masuk di pondok, keinginanku cuma satu “ingin menjadi yang terbaik”. Kegemaranku ingin berlatih silat baik karate dan tapak suci tidak terlalu disalurkan. Keadaan waktu itu tidak terlalu mendukung bakatku. Apalagi lingkungan pondok waktu aku Tsanawiyah lumayan keras. Semuanya maen kekerasan. Kami yang junior kadang menjadi suruhan senioran. Ya, begitulah aku dulu di Tsanawiyah. Tapi aku bersyukur dari kekerasan lingkungan aku bisa berfikir positif.

Dari lingkungan asrama menuju lingkungan mesjid. Dari sinilah perubahan sikap positifku. Walau pertamanya aku juga pernah putus asa dan tidak ingin melanjutkan sekolah lagi, tapi waktu itu Bu Almu membantuku. Bu Almu memberiku suggesti berarti bahwa hidup itu penuh perjuangan. Aku tersentuh dengan kata-katanya.

Hamper tiga tahun lamanya aku tinggal di mesjid, dan alhamdulillah selama tinggal di sana, aku mendapatkan diriku amat berubah. Lingkungan yang semangat bekerja dengan ikhlas, beribadah sampe belajar. Bang Surip, bang Anjas Nanang aduh abang siapa lagi ya, aku lupa, yang penting thanks for you forever.

Bila mengingat masa lalu…hiks…hiks…hiks…aku jadi sedih. Perrjuangan mereka selama ini tidak boleh aku sia-siakan. Itulah tekad bulatku.

Ujian pondok dan umum sudah dekat. Aku harus mempersiapkannya. Al-Qur’an dua juz harus sudah jâhiz. Ya, tanggal 1 Mei 2003 aku harus berjuang mati-matian. Di sanalah awal babak kehidupanku akan dimulai. Setelah beberapa pertimbangan, aku lebih memilih Mesir dari pada tawaran Pak Firmali untuk ngambil jalur SPMB dan PMDK bagi yang berprestasi 10 besar. Tapi temanku Yuni Sari, yang dulunya pengen juga ngambil ke Mesir malah membatalinnya. Hilang de harapan. Heheheh…

“Waduh, jadi nggak ada ustadz yang bisa menemaniku, Buya?” aku bertanya pada Buya Supriyadi di kantor Tsanawiyah.
“Iya, semuanya pada sibuk ngawas ujian, Naryo.”
“Padahal Buya aku juga nggak terlalu mengerti Medan, ntar kalau kesasar?”
“Kamu tanya aja rutenya sama Ustaz Amin, ya!”
“Kalau begitu, okelah Buya saya berangkat. Mohon doanya.”
“Sama-sama.”

Bismillah, aku harus berani.

Wah, modal nekat dan berani ternyata masih kurang ya. Aku lihat calon pendaftarnya keren-keren semuanya. Dari tampangnya meyakinkan. Sedang aku biasa-biasa aja. Kelihatannya aku harus pake jurus kedua ne. percaya diri dan tawakkal. Kalau tidak aku akan gagal. Ya Allah tunjukilah jalan yang terbaik bagi hamba.

Alhamdulillah semua ujian t’lah aku lewati. Ujian tulisan yang tidak cukup sulit tidak sesulit ujian masa bang Aam waktu itu, dan ujian Al-qur’an yang juga mudah.
“yo’, kamu jangan lihat kemudahan yang ada, tapi kamu harus banyak berdoa dan jangan lalai, ya.”
“Ya, ustaz.”

Benar kata Ustaz Amin aku terlalu menganggap mudah ujiannya, habis sangat berbeda sekali ketika bang Aam ujian setahun yang lalu. Katanya sangat sulit dan penuh persaingan. Tapi aku tidak boleh lalai karena lalai itu membuat kita lupa di sana ada scenario di belakang layar yang mengatur semuanya.

Di dalam sujudku aku selalu berdoa dan memperbanyak shalat malam. Di selang-selang ujian UAS, ujian umum dan pondok, aku terus berdoa.

O… bintang-bintang di langit-langit
Perhiasan di malam hari
Bersama cahaya bulan yang menemani
Keindahannya bertambah indah
Kecantikannya bertambah cantik
Ingin aku menjadi bintang dan bulan
Sebagai perhiasan dan penerang
Di hati umat yang tergelapi
Gemerlapan fatamorgana keindahan duniawi

Kairo, 15 Desember 2008 pukul 03.34 di sela-sela malam yang sangat dingin menusuk tulang. Ku persembahkan tulisan ini sebagai renungan dan kenanganku selama di pondok baik suka dan duka. Maaf kalau ada yang kurang berkenan…

configured by Arya_yellow

5 Responses to “Di saat Kau mendoakanku di shalat malammu”


  1. 1 Syuhada03 December 15, 2008 at 11:17 pm

    Semoga cahaya bulan selalu menjadi penerang hati
    Dihati hamba-Nya yang rindu akan Rahmat-MU

    Hidup itu seperti Perjalanan
    Yang menuntut agar kita berani melangkah dengan yakin
    InsyaAllah ada jalan

  2. 2 nurulanda December 16, 2008 at 6:24 am

    Baguzzzzzzzzz..banget…
    CoCoK BanGet BuAt MoTiVAsi…
    BaNYak BnGeT Yg BSa Kt AmbIl..
    SemANgAt Y SunARio…
    UanG 50 Rbu AlHamduLillAh bS NganTarin K MeSir..SubHAnallah..
    SeMangAt y…

  3. 3 sunario December 16, 2008 at 6:29 am

    ma kasih nanda da beri aku semangat? thanks…

  4. 4 zulfan siahaan December 16, 2008 at 10:22 am

    hahah, luar biasa mmang kawan-kawan dan adek-adek yang pnya ksmpatan blajar smpai ke mesir, aku jga dlu smpat pnya keinginan untuk ke mesir, tpi lantaran klas tiga udah mlai nakal, pupus sudah harapanya,hahah!!buat sunario yang smngat yah, slesaikan kuliahmu dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, biar bsa mlnjutkan studi ke jenjang yang lbih tinggi, mohon doanya, mudah-mudahan allah mmberikan kemudahan kpadaku dalam mnyelsaikan studiku, heheh!!
    salam buat hamdani purba!!

  5. 5 sunario December 16, 2008 at 12:55 pm

    thanks doanya bang zulfan. kita saling mendoakan. bang hamdani dia di sudan. tahun depan selesai. jadi salamnya gak bisa saya sampaikan. heheeheh. ntar kalau ada waktu baru saya sampaikan….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




FOLLOW @kualamadu

Brighter Planet's 350 Challenge

Statistik Blog

  • 54,747 hits
Add to Technorati Favorites

%d bloggers like this: