Kisah Pernikahan Ryan

“Ryan, kamu kok dari tadi diam.” Kata Marisha.
“Gak, kok. Aku cuma sedang berfikir kemana aku nanti melanjutkan kuliahku setelah selesai program Lc tahun ini.” Kata Ryan dengan wajah yang muram, kusut, dan bersedih.
Ryan seorang yang good a planner dalam segala urusan. Setiap kegiatannya selalu direncanakan dalam buku agenda hariannya. Dan ia selalu memberikan evaluasi setiap target yang ditentukannya. Jadinya dia termasuk orang yang sukses dalam studinya.
“Apa yang menyebabkan wajahmu mendung, Ryan?” Marisha balik bertanya.
“Aku ingin melanjutkan studyku di Al-Azhar, tapi…” Suaranya terputus.
“Tapi…apa?”
Ryan hanya terdiam tak mampu menjawabnya.

Seminggu kemudian, Ryan tampak berseri-seri wajahnya. Senyum manis tersimpul di bibirnya. Selaksa kebahagiaan menyelimuti hatinya.

“Ryan, ku lihat wajahmu tampak gembira sekali berbeda dengan seminggu yang lalu.” Marisha menyapanya dari belakang ketika Ryan duduk tersenyum di Suqq Sayyarat. Suasana lapangan Suqq Sayyarat yang selalu ramai dengan mahasiswa bermain bola setiap sorenya dari berbagai Negara.
“Ah, kamu Marisha rupanya. Buat aku terkejut aja.” Jawab Ryan tersenyum.
“Hemm…” Marisha hanya mendehem.
“Gini, Marisha. Setelah aku berdiskusi dengan orang tuaku, akhirnya aku diizinkan melanjutkan studiku di Al-Azhar. Awalnya, berat sekali keluargaku mengizinkannya lantaran masa studinya yang terlalu lama sekali. Kemudian aku jelaskan semuanya, dan akhirnya mereka menerima alasanku dan memahaminya. Dan yang amat terpenting sekali mereka mengizinkanku menikah di sini. Gimana pendapatmu, Marisha?”
“Menikah…???” Marisha tampak terkejut sekali.
“Kok, kamu nampak amat terkejut dan gugup, Marisha?” Tanya Ryan.
“Ehemm, by the way brother, dengan siapa kamu mau menikah?” Balik Tanya Marisha keheranan.
Ryan hanya tersenyum sumringah.

Sebulan kemudian. Datanglah sebuah surat lamaran kepada Marisha.

“Marisha, kemarilah sebentar. Kakak ada yang mau dibicarakan sama Marisha.” Kata kak Marya dengan wajah serius tidak seperti biasanya. Kak Marya termasuk kakak terdekat Marisha. Dia juga termasuk guru bimbingan muqorrarnya dan guru spiritualnya di liqa’an.
“Ada apa, kak Marya?” Jawab Marisha gugup.
“Begini, Marisha. Eh…ehmm…” Suara kak Marya terasa berat mengucapkannya.
“Ya, kak. Sebenarnya, ada apa?” Marisha jadi penasaran.
Marya bingung harus ngomong dari mana. Dia juga berat mengatakannya. Karena surat lamaran itu datang dari seorang ikhwan teman baiknya Marisha juga. Dia takut Marisha akan terkejut dan menolak lamaran ini. Tapi, bagaimanapun dia telah diamanahi untuk memberitahukan surat itu pada Marisha. Dengan berat hatinya, akhirnya dia mengatakannya.
“Sebenarnya, kakak ingin memberikan sebuah surat dari ikhwan untukmu.”
“Surat dari ikhwan untuk saya.” Marisha tampak sangat terkejut sekali. Dia merasa ada yang gak beres dengan surat tersebut.
“Surat apaan, kak.” Rasa ingin tahu Marisha terus memaksa kak Marya berbicara jujur. Marya pun terpojok juga dan berbicara panjang lebar tentang maksud dan tujuan surat lamaran tersebut. Marisha yang mendengarkannya terkejut dan tiba-tiba pingsan. Lalu Marya membaringkan Marisha ke tempat tidurnya.

Beberapa jam lamanya Marisha tertidur, akhirnya dia tersadar juga. Marya yang setia masih menemani dirinya di tempat tidur. Dengan secangkir susu hangat dan snack ringan terhidang membuat suasana agak hening sejenak. Setelah Marisha meminum susu hangat dan memakan snack ringan, perasaannya mulai agak tenang.

“Benarkah demikian, kak?” Marisha memulai pertanyaan atas keraguannya.
“Iya, Marisha. Kakak tahu ini berat bagimu menerimanya karena dia teman baikmu, bukan?” Marisha hanya terdiam.

Benar, Ryan adalah teman baik Marisha yang datang bersama-sama tahun 2003 angkatan Rivival el-Mahbub. Sebuah nama angkatan penerima program beasiswa Al-Azhar University atas rekomendasi Depag. Ryan termasuk mahasiswa yang berbakat, aktifis dan produktif. Tulisannya telah tersebar di berbagai media masisir, baik media ormas, kekeluargaan, senat, sampai media PPMI (Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia). Pokoknya, segudang prestasi telah ia raih. Tapi sikapnya yang tawadhu membuat orang terpesona melihatnya. Dan tak jarang para akhwat ingin dilamar olehnya.

“Marisha, kok kamu melamun.” Kata Marya mengejutkan dirinya. Marisha pun terbangun dari lamunannya.
“Oh… iya, emang surat itu kapan datangnya, Kak.?” Marisha balik bertanya.
“Kemaren. Tapi kakak kemaren lupa menyampaikannya.”
“Oooo…,”
“Sekarang, gimana perasaanmu?”
“Alhamdulillah, sudah tenang, Kak.”
“Terus, gimana keputusannya?”
Marisha hanya diam dan tersenyum tak bisa memberikan jawaban langsung.
“Senyum tandanya menerima, lho…” kata Marya menggoda.
“Ah…kakak, kan Marisha belum kasih jawabannya.”
“Iya, belum kasih jawabannya. Tapi jawabannya sudah ada di senyummu.”
Marisha hanya tersenyum lepas, membayangkan selaksa kebahagiaan menyelimuti hatinya. Seperti salju turun dari langit. Dingin.

Setelah Marisha menerima lamaran itu, seminggu kemudian mereka menikah. Resepsi pernikahan yang diadakan dengan amat sederhana sekali ala masisir (baca: mahasiswa mesir) di mesjid As-Salam, di Hayy el-Asyir. Kemudian, keduanya menjalankan kehidupan berumah tangga sambil juga menyelesaikan studi program Magister bersama-sama.

Kairo, 18 Desember 2008, pukul 23.14 di malam yang sunyi di bawah cahaya rembulan di kamar mungilku yang lucu.

0 Responses to “Kisah Pernikahan Ryan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




FOLLOW @kualamadu

Brighter Planet's 350 Challenge

Statistik Blog

  • 54,826 hits
Add to Technorati Favorites

%d bloggers like this: