Kontroversi Hubungan antara Prinsip Agama dengan Ideologi Negara

Bagaimanakah peranan agama dalam menentukan sebuah ideologi sebuah negara? Apakah agama benar-benar menjadi suatu dasar landasan dalam membuat suatu aturan bagi sebuah negara? Nah, inilah beberapa pertanyaan yang menjadi pertanyaan besar bagi kita, khususnya di negara kita yang mayoritas islam.

Pada hakikatnya pemikiran mendasar tentang kehidupan adalah pemikiran menyeluruh (fikrul kulliyah) tentang alam semesta, manusia, kehidupan, dan tentang apa yang ada sebelum kehidupan dunia dan sesudah kehidupan dunia serta hubungan antara kehidupan dunia dan sesudahnya (An Nabhani, 1953). Oleh karena itu, pembahasan hubungan agama dan negara harus berdasar pada hal tersebut sebagai pemikiran cabang yang lahir dari pemikiran mendasar tersebut.

Mari kita lihat Ideologi-ideologi (aqidah) yang ada didunia yang digunakan sebagai dasar negara.

1.Ideologi Materialisme
Ideologi materialisme (Al Maaddiyah) menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada hanyalah materi belaka. Tidak ada Tuhan, tidak ada ruh, atau aspek-aspek kegaiban lainnya. Materilah asal usul segala sesuatu. Materi merupakan dasar eksistensi segala macam pemikiran (Ghanim Abduh, 1964).
Atas dasar paham materialisme itu, dengan sendirinya agama tidak mempunyai tempat dalam sosialisme. Sebab agama berpangkal pada pangkuan eksistensi Tuhan, yang jelas-jelas diingkari oleh materialisme. Bahkan agama dalam pandangan kaum sosialis-matrealis hanyalah ciptaan manusia yang tertindas dan merupakan candu yang membius rakyat yang harus dimusnahkan dari muka bumi (lihat Karl Heinrich Marx, Contribution to the critique of Hegel Philosophi of right).

2.Ideologi Kapitalisme
Ideologi kapitalisme adalah pemisahan agama dari kehidupan (fashluddin ‘anil hayah), atau sekularisme. Paham ini tidak menafikan agama secara mutlak, namun hanya membatasi perannya dalam mengatur kehidupan. Keberadaan agama memang diakui walaupun hanya sebagai formalitas, namun agama tidak boleh mengatur segala aspek kehidupan, seperti politik, ekonomi, sosial, budaya dan sebagainya. Agama hanya mengatur hubungan antara manusia dengan tuhannya sedangkan untuk hubungan antara manusia itu diatur oleh manusia itu sendiri Zallum, 1993).
Berdasarkan paham kapitalisme, formulasi hubungan antara agama-negara dapat disebut dengan hubungan yang separatif, yaitu suatu pandangan yang berusaha memisahkan agama dari aspek kehidupan. Agama hanya berlaku dalam hubungan secara individual antara manusia dengan tuhannya, atau berlaku secara amat terbatas dalam interaksi sosial sesama manusia.

3.Aqidah Islamiyah
Aqidah islamiyah adalah iman kepada Allah SWT, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, Hari akhir dan Taqdir (Qadar) Allah. Aqidah ini merupakan dasar ideologi islam yang darinya terlahir berbagai pemikiran dan hukum islam yang mengatur kehidupan manusia. Aqidah islamiyah menetapkan bahwa keimanan harus terwujud dalam keterikatan terhadap hukum syara’, yang cakupannya adalah segala aspek kehidupan, dan bahwa pengingkaran sebahagian saja dari hukum islam (yang terwujud dalam sekulerisme) adalah suatu kebatilan dan kekafiran yang nyata. Allah SWT berfirman :

“Maka demi Tuhanmu, mereka pada hakekatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim (pemutus) terhadap perkara yang mereka perselisihkan.” (QS. An-Nisa’ : 65)

“Barangsiapa yang tidak memberi keputusan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” (QS. Al Maa’idah : 44)

Berdasarkan ini, maka seluruh hukum-hukum islam tanpa kecuali harus diterapkan kepada manusia, sebagai konsekuensi adanya iman atau Aqidah Islamiyah. Dan karena hukum-hukum islam ini tidak dapat diterapkan secara sempurna kecuali dengan adanya institusi negara, maka keberadaan negara dalam islam adalah suatu keniscayaan. Karena itu, formulasi hubungan agama-negara dalam pandangan islam dapat diistilahkan sebagai hubungan yang positif, dalam arti bahwa agama membutuhkan negara agar agama dapat diterapkan secara sempurna dan bahwa agama tanpa negara adalah suatu cacat yang akan menimbulkan reduksi dan distorsi yang parah dalam beragama. Agama tak dapat dipisahkan dari negara. Agama mengatur seluruh aspek kehidupan melalui negara yang terwujud dalam konstitusi dan segenap undang-undang yang mengatur kehidupan bernegara dan bermasyarakat.

Imam Al Ghazali dalam kitabnya AL Iqtishad fil I’tiqad halaman 199 berkata :

“Karena itu, dikatakanlah bahwa agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Dikatakan pula bahwa agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berpondasi niscaya akan roboh dan segala sesuatu yang tidak berpenjaga nicaya akan hilang lenyap.”

Ibnu Taimiyah juga dalam Majmu’ul Fatawa juz 28 halaman 394 menyatakan :

“Jika kekuasaan terpisah dari agama, atau jika agama terpisah dari kekuasaan, niscaya keadaan manusia akan rusak.”

Apakah kebaikan atau kerusakan kah yang akan terjadi dinegara kita itu tergantung kepada kita semua. Lalu apakah kontribusi yang dapat kamu lakukan untuk melakukan perbaikan?

Wallahu’alam bi showab.

3 Responses to “Kontroversi Hubungan antara Prinsip Agama dengan Ideologi Negara”


  1. 1 sunario March 25, 2009 at 8:09 am

    assalamu’alaikum

    menarik sekali pembahasannya. saya sangat kagum, ada tulisan sebagus ini tanpa nama pena tercantum. tulisan ini cocok sekali sbg pengantar pemilu di negara kita, bahwa di dalam pemilu ini kita harus lebih arif dalam bersikap.

    eh, pak admin tolong setiap tulisan masuk, ya dicantumin dong namanya, ko da nulis tp malu mencantumkan namanya. hehehhe

  2. 2 Hamdani Purba May 9, 2009 at 4:35 pm

    Kalau Allah Masih Memberikan Kesempatan Hidup

    Dalam sebuah pengajian kecil, seorang teman seangkatan saya di Sudan yang dikenal bersahaja sering memberikan pelajaran berharga dalam setiap perkataannya. Pesan yang ia sampaikan dibalut dengan kalimat yang indah, ringkas, padat dan syarat makna. Di setiap pesan tersebut, ia selalu mengatakan, “kalau Allah masih memberikan kesempatan kita hidup, itu artinya Allah memberikan kesempatan bertaubat.” Pada awalnya kalimat ini berlalu begitu saja di telinga saya; saya anggap hanya pesan biasa yang kerap disampaikan ustad-ustad di pengajian atau di ceramah-ceramah. Sepertinya saya gak merasa ada sesuatu yang baru dalam kalimat singkat itu. Namun, di setiap pertemuan, kalimat itu selalu hadir dalam pesannya. Sampai saat itu…saat di mana bulu roma saya merinding, hati saya terasa tersayat, pikiran saya terasa terhempas, nurani saya terasa terhentak. Saya juga heran kenapa kali ini kalimat teman saya itu begitu mengangu pikiran saya, padahal kalimat yang sama, “kalau Allah memberikan masih kesempatan kita hidup, itu artinya Allah memberikan kesempatan bertaubat.” disampaikan oleh orang yang sama, pada momen yang sama di tempat yang sama, di lingkungan yang sama.

    * * *

    Saat perjalanan pulang dari pengajian, dalam muasholat (angkutan umum) tiba-tiba saya teringat dengan seorang teman seperjuangan saya ketika di Mesir dulu, kira-kira empat tahun lalu. Almarhum Muhammad Abqory, asal kalimantan. Allah tidak memberikan kesempatan hidup lama baginya. Allah memanggilnya lebih dahulu saat hampir setahun lagi kami menyelesaikan kuliah. Astagfirullah, kataku berulang-ulang dengan suara keras, sampai-sampai seorang pemuda yang duduk di sampingku berkata: “Ma lak ya jol?” (Ada apa denganmu?), Ma `indi hajah! (gak apa-apa) jawabku sambil melempar senyuman kepadanya.

    Ya Allah, aku baru sadar, betapa bodohnya aku ini, betapa keringnya hati ini, betapa jauhnya diri dari-Nya sampai-sampai kalimat “kalau Allah masih memberikan kesempatan kita hidup, itu artinya Allah memberikan kesempatan bertaubat.” baru terhujam saat berulang kali diucapkan. Aku baru sadar bahwa kesempatan hidup ternyata bisa dipahami dan dijalankan dengan keliru. Karena kesempatan hidup tidak datang berulang kali, makanya orang selalu berlakon aneh. Ada yang menikmati hidup dengan kenikmatan semu, ada yang menikmatinya dalam kesendirian dengan Robnya. Kesadaran kita akan kesempatan hidup ini bisa merubah orientasi berfikir seratus delapan puluh derajat; yang tadinya berfikir bebas menjadi lurus; yang tadinya mementingkan diri sendiri menjadi sosialis dan empati terhadap sesama; yang tadinya terbiasa mencampurkan antara yang haq dan batil menjadi konsisten dengan kebenaran; yang tadinya banyak berangan-angan dan berlebihan dalam ‘bermimpi’ menjadi realistis dan sadar diri.

    * * *

    Memahami bahwa kesempatan hidup berarti kesempatan bertaubat, bukan sebatas karena kita bersalah lantas harus bertaubat, atau karena kita pernah bermaksiat makanya perlu kembali kepada Allah. Tidak sekedar itu kawan…kalimat itu dalam sekali maknanya…saya ingin Anda membacanya berulang-ulang dan renungkan dalam-dalam, Bukankah orang hidup ini pasti mati, bukankah kematian adalah akhir semua perjalanan dan usaha. Hari ini amal besok adalah hisab. Manusia ini lemah dari segala sisi, tapi bisa menjadi mulia di hadapan Allah saat lidahnya selalu basah dengan istigfar, saat hatinya selalu lapang dengan zikrullah, saat tangannya selalu tertengadah memohon ampunan, saat kaki dan wajahnya selalu menempel dengan sajadah, saat air matanya selalu mengalir ketika mengingat azab Allah.

    “kalau Allah masih memberikan kesempatan kita hidup, itu artinya Allah memberikan kesempatan bertaubat.” Ya…karena hidup bukanlah umur, bukanlah strata akademis, bukanlah status sosial. Tapi hidup adalah amal kebaikan, hidup adalah taubat kepada Allah, hidup adalah ibadah. Ya.. karena Allah memandang seorang dari perbuatannya, bukan dari umurnya. Standar perbuatan yang baik bukan dari kuantitasnya apalagi dari pelakunya, tapi dari kepada siapa ditujukan dan untuk apa dilakukan.

    “kalau Allah masih memberikan kesempatan kita hidup, itu artinya Allah memberikan kesempatan bertaubat.” Siapa yang bisa terhindar dari kesalahan, siapa yang berani mengatakan dirinya benar dan suci. Setinggi apapun iman manusia pasti butuh taubat, butuh kembali memperbaiki niat. Banyak orang beribadah dengan khusyu’ tapi tetap saja setan punya peluang merusak, banyak orang berbuat kebaikan tetap saja hati kecilnya ingin dipuji, ingin ada yang bertepuk tangan untuknya, ingin ada yang mengucapkan terima kasih padanya…itu masih kesalahan kecil yang tersimpan jauh di relung hati, gak ada yang tahu kecuali diri ini, masih bisa ditutupi dengan topeng ‘soleh’, masih berpura-pura ‘alim’, naudzubillah, bagaimana jika kesalahan itu menjadi besar dan merugikan orang lain, alih-alih ingin ditutupi malah membuka aib sendiri.

    “kalau Allah masih memberikan kesempatan kita hidup, itu artinya Allah memberikan kesempatan bertaubat.” Ya, karena Rasulullah bersabda, “Tidak seorangpun diantara kalian yang amalannya itu memasukkannya ke surga. Sahabat bertanya, “Apakah Engkau juga demikian ya Rasulullah? “Ya saya juga demikian, kecuali Allah memberikan rahmat dan ampunan.” (HR. Bukhari dan Muslim) Ya Allah, ini Rosulullah; yang sudah dijamin masuk surga, yang maksum dari kemaksiatan dan dosa, yang selalu beribadah kepada Allah. Ini Rosulullah kawan, orang yang paling mulia di dunia ini. Bagaimana dengan kita, yang setiap menit selalu menyisakan kesalahan, menyimpan dosa. Hati masih keruh dengan ‘penyakit’, susah menggap orang lain lebih dari kita, lidah masih kaku mengakui kekurangan diri, dada belum lapang memaafkan kesalahan teman, ahhh banyak lagi. Dengan bertaubat seorang akan merasakan hidup baru, semangat baru, keteguhan baru, komitmen baru bahkan prinsip hidup baru. Kita tidak tahu kawan, perbuatan kita yang mana yang akan memasukkan kita ke surga, amalan kita yang mana kelak yang akan diterima.

    * * *

    “kalau Allah masih memberikan kesempatan kita hidup, itu artinya Allah memberikan kesempatan bertaubat.” Karena banyak orang hidup seperti mati, diberikan kehidupan malah ngak ngerti, dia gak sadar bahwa banyak orang sehat tiba-tiba mati, banyak orang sakit malah bertahan hidup lebih lama lagi. “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?” (QS. Al-‘An`am:122)

    Alhamdulillah kita masih bisa hidup, masih ada waktu untuk kembali, jangan pernah bosan berbenah diri, sebab rahmat ilahi gak pernah berhenti. Biarkan hidup ini berlalu dengan hidayah ilahi, bergegaslah melihat kesalahan diri sebelum maksiat menggunung tinggi; malaikat sudah siap untuk membawamu pergi; sementara bekal diri belum terpunuhi. Semoga kalimat “kalau Allah masih memberikan kesempatan kita hidup, itu artinya Allah memberikan kesempatan bertaubat.” Ada telinga yang mau mendengar, ada hati yang tersentuh, ada yang lidah yang segera beristigfar. Semoga

    Saudaramu; AAM

    * * *


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




FOLLOW @kualamadu

Brighter Planet's 350 Challenge

Statistik Blog

  • 54,747 hits
Add to Technorati Favorites

%d bloggers like this: