Bulan Ramadhan adalah bulan…

Bulan Ramadhan memang identik dengan kegiatan puasa, yaitu menahan hawa nafsu dari terbit fajar sampai terbenam matahari, sepertinya semua abang2 dan kakak2 hafal sama pengertian ini ato malah udah khatam.😀

Tentunya bulan ramadhan tidak hanya sekedar melaksanakan ritual seperti biasanya saja, karena setiap datangnya bulan ramadhan itu juga menandakan waktunya kita untuk melakukan panen, karena Allah SWT memberikan bonus2 yang memang disediakan hanya pada bulan yg penuh rahmat ini.

Mengisi hari-hari dibulan ramadhan adalah hal yang wajib untuk kita lakukan bersama-sama selain wajib juga mesti semaksimal mungkin, tentunya dengan kegiatan yang baik dan bermanfaat. klo tradisi di masyarakat kita biasanya saling bermaafan kepada sanak keluarga, teman terdekat dan saudara-saudara lainnya, selain itu juga ada yang sekedar melakukan ziarah, bersilaturahim dengan mengunjungi sanak-keluarga dan lain sebagainya.

Nah, tentunya tidak hanya di negara kita yang memiliki tradisi saat akan memasuki bulan ramadhan. Berikut beberapa tradisi pada bulan ramadhan yang dilakukan oleh masyarakat di belahan penjuru dunia.

Datangnya bulan suci Ramadhan, sangat dinanti kaum Muslimin di berbagai penjuru dunia. Berikut ini gambaran sekilas bagaimana umat Islam menyambut hadirnya bulan penuh ampunan itu.

Jepang
Dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan, umat Islam di Jepang saling berbagi kebahagiaan dengan saudaranya sesama Muslim. Namun jauh sebelum datangnya Ramadhan, kaum muslimin di Negeri Sakura itu telah mempersiapkan diri. Islamic Centre Jepang misalnya, telah membentuk semacam panitia Ramadhan yang bertugas menyusun kegiatan selama bulan puasa, mulai dari dialog keagamaan, majelis taklim, shalat tarawih berjamaah, penerbitan buku-buku keislaman dan segala hal yang terkait dengan pelaksanaan ibadah puasa.

Panitia juga menerbitkan almanak Ramadhan dan mendistribusikannya ke rumah-rumah keluarga Muslim maupun ke masjid-masjid. Almanak ini juga dibagikan ke restoran-restoran halal di seantero Jepang. Panitia ini mulai bekerja ketika telah muncul hilal dan berakhir pada saat Idul Fitri. Jika tidak nampak hilal tanda awal puasa dimulai, maka panitia mengikuti ketetapan hilal Malaysia, negara tetangga terdekat.

Austria
Terdapat sekitar 400,000 Muslim di Austria atau sekitar 4% dari 8 juta total penduduk negara itu. Agama Islam secara resmi diakui di Austria sejak 1912 dan menjadi agama kedua terbesar setelah Katolik. Sebagaimana tradisi di negeri Islam lainnya, Muslim di Austria menyambut kehadiran bulan Ramadan dengan penuh suka cita. Mereka menjalankan ibadah shalat tarawih di sekitar lima puluh masjid di Wina dan kota-kota Austria lainnya. Umat Islam Austria juga kerap datang ke masjid secara teratur untuk mendengarkan kajian agama tentang hukum Islam, tafsir al-Qur’an dan ilmu pengetahuan lain.

Di Wina juga terdapat sebuah Islamic Center yang didirikan dan dibiayai oleh negara-negara Muslim. Islamic Center ini merupakan pusat informasi dan dakwah Islam. Kuliah-kuliah keagamaan maupun khutbah kerap diberikan oleh kelompok sarjana Muslim terkemuka dari Al-Azhar, Mesir dan tempat-tempat lain. Shalawat tarawih di Islamic Center diadakan secara teratur. Lebih dari itu, Islamic Center ini juga menyediakan hidangan sahur dan buka puasa sepanjang bulan Ramadhan.

Menjelang bulan suci Ramadhan, Muslim di Austria biasanya menggelar kampanye pengumpulan paket lebaran untuk keluarga miskin dan hadiah lebaran untuk anak-anak yatim piatu di Palestina. Kampanye ini dikordinir oleh organisasi kemanusiaan Palestina yang ada di Austria. Kampanye yang diberi nama Feeding Fasting Palestinians ini mendapat sambutan positif dari Muslim Austria. Mereka berlomba-lomba menginfakkan hartanya. Untuk menyebarluaskan kampanye bantuan bagi warga Palestina ini, warga Muslim Austria menggunakan berbagai cara, seperti penyebaran poster, pemasangan iklan dan jasa pos. Semua bantuan dikirimkan melalui lembaga-lembaga sosial yang beroperasi di wilayah Palestina.

Untuk menentukan jatuhnya awal bulan Ramadhan, Muslim Austria sepakat mengikuti Arab Saudi. Sebelumnya, selama bertahun-tahun, warga Muslim yang berasal dari berbagai etnis, seperti Mesir, Suriah dan Turki tersebut, berbeda-beda dalam menentukan jatuhnya awal bulan Ramadhan, disesuaikan dengan negara asalnya masing-masing.

Swedia
Masalah utama yang dihadapi kaum Muslimin Swedia dalam menyambut Ramadhan adalah masalah hilal. Umat Islam Swedia berbeda pendapat dalam menentukan jatuhnya awal Ramadhan karena keterbatasan lembaga agama Islam yang menjadi rujukan. Memang terdapat Islamic Center di Swedia, namun tidak dapat menjangkau seluruh umat Islam yang tersebar di berbagai wilayah. Lagi pula, media-media di Swedia tidak memberikan bantuan menyebarluaskan tentang kedatangan bulan Ramadhan. Walau demikian, kaum Muslimin di Swedia kebanyakan mengikuti Arab Saudi dalam menentukan awal bulan Ramadhan dan Idul Fitri.

Ada suatu perbedaan besar antara cara merayakan Ramadhan di negara-negara Skandinavia dan negara-negara Eropa yang lainnya terkait dengan jumlah umat Islam. Walau mereka menjadi minoritas di Swedia, namun Ramadhan membentuk suasana spiritual berbeda yang dinanti-nanti kehadirannya dari tahun ke tahun. Begitu mengetahui munculnya hilal, umat Islam Swedia akan saling memberi selamat satu dengan lainnya. Mereka melaksanakan shalat tarawih berjamaah di masjid-masjid terdekat atau tempat-tempat lain yang disewakan sebagai tempat ibadah, jika di sana tidak terdapat masjid.

Jerman
Ramadhan di Jerman berlangsung dalam suasana berbeda dibanding di negara-negara mayoritas Muslim lainnya. Perbedaan juga terdapat pada lamanya waktu siang hari dibanding malam pada musim panas, namun lebih pendek di musim dingin.

Terdapat sekitar 3,5 juta Muslim di Jerman, yang tinggal di Berlin atau Ruhr. Keduanya merupakan wilayah dengan komunitas Muslim tinggi di negari Hitler itu.  Karena bukan merupakan kawasan mayoritas Muslim, tak heran jika umat Islam Jerman mendapat tantangan yang cukup berat ketika sedang berpuasa. Dimana-mana tampak orang yang makan dan minum di siang hari. Oleh sebab itu, banyak juga umat Islam yang tidak menjalankan ibadah puasa dengan alasan pribadi.

Orang Muslim yang bekerja dengan sistem shift di beberapa perusahaan tertentu akan mensiasati buka puasanya dengan mencari waktu-waktu rehat. Namun, beberapa perusahaan yang memiliki karyawan Muslim dalam jumlah besar membuat kesepakatan terkait dengan ibadah puasa, khususnya untuk waktu buka puasa. Namun, kebanyakan umat Islam menikmati buka puasanya di rumah, ketimbang di tempat kerja karena suasananya yang lebih nyaman.

Mesir
Di Mesir terdapat sebuah meriam tua yang digunakan sebagai penanda bulan puasa. Tiap waktu imsak dan buka puasa, meriam ini disulut hingga mengeluarkan bunyi dentuman yang keras. Meriam yang diberinama Hajjah Fatimah ini adalah warisan dari Muhammad Ali Pasha, yang menurut cerita, adalah putri Ustman Khos Qadam, penguasa Dinasti Usmani. Walau meriam itu telah diganti, namanya tetap tak berubah. Meriam ini biasanya ditempatkan di dataran tinggi Moqattam dekat Citadel. Empat orang ditugaskan untuk menjaganya dan menyulutnya untuk membangunkan orang makan sahur atau mengingatkan waktu berbuka puasa.

Suasana Ramadhan di Mesir berlangsung khidmat. Setiap orang, mulai dari kota hingga desa lebih betah tinggal di masjid. Wajar jika selama Ramadhan, shaf jamaah masjid tidak berkurang. Terlebih sepuluh hari menjelang Idul Fitri, masjid-masjid penuh sesak. Hampir di tiap masjid besar Kairo, menyelenggarakan shalat tarawih cukup lama. Setiap malam sang imam menghabiskan bacaan 1 juz al-Qur’an. Hingga akhir Ramadhan, bacaannya genap 30 juz. Salah satu masjid terkenal dan paling diminati jamaah Ramadhan adalah Masjid Amr bin Ash. Masjid ini merupakan masjid pertama di Afrika dan menjadi markas Ikhwanul Muslimin, dibangun oleh sahabat Amr bin Ash saat membebaskan Mesir pada masa khalifah Umar bin Khattab. Masjid yang agak jauh dari pusat kota ini, setiap malamnya membacakan 1 juz al-Qur’an.

Di Mesir juga terdapat tradisi Ramadhan yang disebut Maidah Rahman atau hidangan kasih-sayang. Maidah Rahman adalah hidangan makanan gratis bagi orang yang berpuasa. Tak hanya ta’jil, tapi juga makanan berbuka lainnya. Menunya pun bermacam-macam bahkan ada yang sekelas hotel berbintang. Program ini merata di seluruh negeri Mesir dan berlangsung selama bulan puasa.

Liberia
Total penduduk Liberia sebanyak 4 juta jiwa, dimana 15 persen-nya adalah Muslim. Selama bulan Ramadhan, umat Islam di Liberia berhenti mendengarkan musik. Bagi mereka, orang yang mendengarkan musik selama Ramadhan dianggap berdosa dan menyimpang dari ruh bulan yang diberkati ini.

Ketika hilal telah tampak pertanda masuknya bulan Ramadhan, orang-orang Liberia mulai memainkan alat-alat musik dari kayu selama beberapa jam. Radio-radio lokal juga menyiarkan program-program keagamaan yang bermanfaat bagi umat Islam.

Di Liberia, orang yang biasanya membangunkan kaum Muslimin untuk makan sahur disebut Papali. Papali memulai tugasnya tiga jam sebelum fajar dan berhenti sebentar di tiap rumah, untuk membangunkan penghuninya agar makan sahur. Biasanya dalam melakukan pekerjaannya ini, Papali menyanyikan lagu-lagu relijius lokal (sejenis nasyid) dan kalimah syahadat.

Mauritania
Pada awal Ramadhan, Muslim Mauritania terutama yang muda, bergegas menuju masjid untuk melaksanakan shalat tarawih. Usai shalat, biasanya kaum muslimin mendengarkan khutbah dan ceramah dari ustadz dan imam-imam. Setelah shalat tarawih, mereka saling berkunjung satu sama lain dan meminum teh hijau, minuman khas di Mauritania.

Sepanjang malam Ramadhan, televisi maupun radio lokal juga menyiarkan langsung shalat tarawih dari Makkah dan Madinah. Di Mauritania, tidaklah mengherankan melihat golongan kaya, terutama yang pelit, menunjukkan simpati kepada golongan miskin selama Ramadan. Solidaritas dan uhkhuwah islamiyah biasanya muncul dan tersebar di seantero negeri selama bulan suci.

Bangladesh
Suasana Ramadhan di Bangladesh sangat berbeda. Umat Islam, lebih banyak memanfaatkan waktu bulan puasa untuk memperbanyak membaca buku agama. Sudah menjadi tradisi di Bangladesh, tiap tahun dibuka pameran buku di bulan Ramadhan. Jadilah bulan Ramadhan bagi Muslim di negeri pecahan India itu sebagai bulan membaca buku.

Pameran buku berlangsung sejak hari pertama hingga pengujung Ramadhan. Biasanya lokasi pameran di Masjid Bait Al-Mukarram di ibukota Bangladesh, Daka. Sejak mulai diberlakukan tahun 1982, pameran buku ini dilakukan atas kerjasama antar berbagai lembaga Islam di Bangladesh dan juga Menteri Urusan Agama.

Para penerbit buku terbiasa menyediakan serangkaian kitab baru dalam pameran satu bulan berikut harga diskon untuk memancing animo pembeli. Panitia pameran kadang menyediakan sejumlah buku gratis pada jam-jam tertentu di waktu pagi atau sore. Dalam pameran Ramadhan ini, pengunjung yang datang tidak hanya dari umat Islam saja, yang non-Muslim pun ikut memadati ruang pameran.

China
Dengan kian dekatnya Ramadhan, imam-imam lokal di Cina mulai memberi tahu orang-orang tentang pentingnya mengkaji al-Qur’an dan sunnah, terutama yang berhubungan dengan puasa dan akhlak. Muslim Cina terbiasa shalat tarawih 20 rakaat. Setiap habis dua rakaat mereka biasanya berseru, “Wahai, Zat (Allah) yang mengubah hati dan penglihatan, yang menciptakan siang malam, teguhkan iman kami dalam kebenaran.”

Beragam aktivitas keislaman diselenggarakan di masjid-masjid Cina seperti kajian tafsir al-Qur’an sebelum tarawih dan memburu malam lailatul qadr. Penganan tambahan seperti teh, gula-gula dan kurma disajikan di tiap rumah sebagai pembeda bulan penuh berkah ini dengan hari-hari biasa. Begitu menjelag hari raya Idul Fitri, kaum Muslimin Cina juga diselimuti kebahagiaan dan saling berucap selamat hari raya.

Dan di belahan dunia yang lain tetap semarak menyambut Bulan Ramadhan..

Sumber : chairulakhmad.wordpress.com

1 Response to “Bulan Ramadhan adalah bulan…”


  1. 1 toko buku import March 5, 2014 at 9:30 pm

    What’s up, I read your blogs regularly. Your story-telling style is witty, keep doing what you’re doing!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




FOLLOW @kualamadu

Brighter Planet's 350 Challenge

Statistik Blog

  • 54,747 hits
Add to Technorati Favorites

%d bloggers like this: