Sejarah Kejayaan Pesantren Tegalsari, Ponorogo – JATIM

Sejak berdiri pada 610 Masehi yang lalu, Pondok Pesantren Tegalsari, Ponorogo, Jawa Timur, terus mengalami kemajuan. Seiring bergantinya generasi pendiri pesantren, santri yang tersisa hanya beberapa saja.

Kiai Syamsudin, seorang santri yang kini menjadi salah satu pengasuh dan pengajar pesantren itu mengaku, saat ini ia hanya mengajar kurang dari 15 santri.

“Yang santri tinggal sekitar 10 lebih. Tapi kalau yang iktikaf banyak, orang-orang tua. Mereka dari orang-orang jauh pada nginep di sini,” ujar pria yang mengaku berumur 70 tahun itu saat ditemui Liputan6.com, di Ponorogo, Jawa Timur, Selasa (8/8).

Syamsudin menjelaskan, pada masa kejayaan pesantren sekitar tahun 1650, santri yang menimba ilmu hampir mencapai 10 ribu orang. “Tapi di tahun 1970, pesantren ini mulai sepi”.

Ada beberapa warisan ajaran pondok pesantren yang dibesarkan Kiai Muhammad Besari ini yang hingga kini hampir memasuki ambang kepunahan. “Sebetulnya ada banyak ajaran beliau yang sampai sekarang perlu diwariskan ke generasi, karena hampir hilang ajaran itu seperti Wujud-wujudan, Utawen, Munajatan, Kitab, termasuk Salawatan yang diiringi Terbangan,” ujar Kuntopramono, salah satu generasi kesembilan Kiai Muhammad Besari.

Riwayat Kiai Muhammad Besari dan pesantren Tegalsari dimulai sejak ketertarikan Kiai Muhammad Besari terhadap sosok kiai yang tinggal di sebelah selatan timur Kota Ponorogo sejauh kurang lebih 12 KM. Seorang Kiai yang alim, berbudi luhur dan bijaksana, asih terhadap sesama, suka memberi pertolongan kepada siapa saja yang menderita kesengsaraan, sesuai dengan peribahasa: memberi payung kepada orang yang kepanasan, memberi tongkat kepada orang yang berjalan diatas tempat yang licin, memberi obor kepada orang yang kegelapan.

Selain itu, jumlah santri atau muridnya yang banyak membuat sang kiai itu tersohor di sekitar desanya. Bahkan sampai ke daerah lain. Kiai yang dimaksud tak lain adalah Kiai Donopuro yang berasal dari keturunan Sunan Tembayat.

Kiai Muhamad Besari pun belajar dengan Kiai Donopura di Pondok Sentono, Jetis, Ponorogo selama empat tahun beserta adiknya Nur Sodiq. Usai berguru, Kiai Muhamad Besari mempunyai keinginan menjelajah daerah Ponorogo dengan adiknya sebagai pengikutnya.

Dalam pengembaraanya, Muhamad Besari sampailah di Desa Mantup, Ngasinan dan bertemu dengan Kiai Noer Salim keturunan dari Kiai Dugel Kesambi, Nglupeng, Slahung. Kiai Muhamad Besari akhirnya diambil sebagai menantu Kiai Dugel, dan memboyong istrinya ke Desa Setono dan keduanya bersama-sama ikut (Suwito) Kiai Donopuro di Setono.

Setelah kurang lebih setahun, Muhamad Besari dan istrinya berada di Setono, Kiai Donopuro, memberikan sebidang tanah untuk tinggal bersama sang istri. Mulailah dia membuka tanah (babad) di sebelah timur seberang Sungai Tegal (tanah) milik Kiai Donopuro yang kemudian diberi nama Tegalsari.

Kiai Muhamad Besari bersama istrinya berangkat dan mulai menempati Tegal yang telah ditunjuk oleh Kiai Donopuro, di Desa Tegalsari Muhamad Besari mulai mendirikan pondok pesantren. Dan setelah Kiai Donopuro wafat, kejayaan (pulung) pindah ke Tegalsari, yang dikemudian menjadi pondok pesantren sangat besar mempunyai banyak santri dan kesohor hingga ke berbagai daerah.

Artikel ini bersumber dari Liputan6.com

0 Responses to “Sejarah Kejayaan Pesantren Tegalsari, Ponorogo – JATIM”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




FOLLOW @kualamadu

Brighter Planet's 350 Challenge

Statistik Blog

  • 54,747 hits
Add to Technorati Favorites

%d bloggers like this: